NU Sumsel Online — Dalam rangka memperkuat peran dakwah Ahlussunnah wal Jamaah (ASWAJA) serta memperdalam ilmu fikih di kalangan anggota, Pimpinan Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Musi Rawas menggelar kegiatan kajian rutin bulanan bersama seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Musi Rawas. Kegiatan ini dirangkai dengan rapat kerja persiapan Konferensi Cabang (Konfercab) Muslimat NU Kabupaten Musi Rawas yang ke-9.
Acara yang berlangsung pada minggu (25/5) ini mengambil tempat di Pondok Pesantren Al Myrsyidiyah, Kelurahan BTS Ulu Cecar. Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan yang mengangkat tema “Fikih Syafi’i sebagai Solusi Dakwah ASWAJA”.
Dalam kegiatan ini, hadir sejumlah tokoh penting dari lingkungan Nahdlatul Ulama di Kabupaten Musi Rawas. Di antaranya Wakil Katib Syuriah PCNU Musi Rawas, KH. Myrayid, Ketua PC Muslimat NU Hj. Sukini beserta jajaran pengurus, serta para Ketua PAC Muslimat NU dari seluruh kecamatan di Kabupaten Musi Rawas.
Dalam sambutannya, KH. Myrayid menyampaikan bahwa kegiatan kajian rutin ini merupakan bentuk nyata dari penguatan identitas keilmuan dan semangat dakwah ASWAJA di kalangan Muslimat NU. Ia menegaskan bahwa fikih Syafi’i merupakan bagian integral dari pemahaman Islam ala Nahdlatul Ulama yang wajib dilestarikan dan disosialisasikan di tengah masyarakat.
“Kajian Fikih Syafi’i ini bukan hanya untuk menambah wawasan, tapi juga untuk memperkokoh pijakan keagamaan kita sesuai dengan manhaj Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah,” ujar KH. Myrayid.
Sebagai pengisi materi utama, Ustadzah Siti Masruroh yang juga Wakil Ketua PC Muslimat NU Musi Rawas menyampaikan kajian mendalam mengenai tata cara wudlu’ yang benar menurut mazhab Syafi’i. Materi ini menjadi sangat relevan, mengingat wudlu’ merupakan salah satu syarat sahnya ibadah yang sering kali dianggap sepele namun banyak keliru dalam praktiknya.
“Banyak di antara kita yang menganggap wudlu’ itu mudah. Namun ternyata, jika tidak sesuai dengan ketentuan dalam mazhab Syafi’i, bisa jadi wudlu’ kita tidak sah. Maka dari itu, penting bagi kita untuk mempelajari ulang dari sumber yang benar,” jelas Ustadzah Siti Masruroh di hadapan peserta.
Dalam sesi tanya jawab, para peserta juga terlihat aktif mengajukan pertanyaan seputar masalah fikih sehari-hari, termasuk seputar tayamum, pembatal wudlu’, hingga hukum menyentuh mushaf tanpa wudlu. Ini menunjukkan tingginya antusiasme kader Muslimat NU dalam menggali ilmu keislaman secara mendalam.
Selain kajian, kegiatan ini juga diisi dengan rapat kerja untuk membahas persiapan pelaksanaan Konferensi Cabang Muslimat NU Kabupaten Musi Rawas yang ke-9. Konfercab ini rencananya akan digelar dalam waktu dekat dan menjadi momen penting dalam menentukan arah gerak organisasi ke depan.
Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Musi Rawas, Hj. Sukini, dalam sambutannya menegaskan bahwa Konfercab bukan hanya agenda formal pergantian kepemimpinan, melainkan juga sebagai ajang konsolidasi gerakan perempuan NU dalam menghadapi tantangan zaman.
“Kita ingin Konfercab ke-9 ini menjadi titik tolak bagi penguatan peran Muslimat NU dalam dakwah sosial-keagamaan di Musi Rawas. Kita butuh regenerasi yang matang dan program kerja yang adaptif dengan kebutuhan masyarakat,” tutur Hj. Sukini.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara PC dan PAC harus terus diperkuat agar semangat kebersamaan dalam menggerakkan dakwah dan pemberdayaan perempuan dapat berjalan optimal.
Dengan berlangsungnya kegiatan ini, diharapkan Muslimat NU Kabupaten Musi Rawas semakin solid dalam menjalankan misi keagamaannya, sekaligus siap menghadapi dinamika sosial yang terus berkembang. Kajian fikih Syafi’i akan terus digelar secara rutin sebagai bagian dari strategi dakwah ASWAJA yang sistematis dan terarah. (Al)
NU Sumsel