Merawat Ingatan Sejarah Lewat Doa dan Budaya: LESBUMI NU Sumsel Kenang Pahlawan Pertempuran 5 Hari 5 Malam Palembang

NU Sumsel Online— Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan kembali menegaskan perannya sebagai penjaga memori kolektif bangsa melalui kegiatan keagamaan dan kebudayaan. Pada Senin malam, 5 Januari 2026, LESBUMI NU Sumsel menggelar Do’a Bersama Mengenang Pahlawan Pertempuran 5 Hari 5 Malam Palembang di Pondok Pesantren Aulia Cendekia Palembang. Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga selesai itu berlangsung khidmat dan penuh nuansa reflektif, dihadiri jajaran pengurus Nahdlatul Ulama, para kiai, kader NU, santri, serta masyarakat umum.

Dalam konteks sejarah nasional, Pertempuran 5 Hari 5 Malam Palembang merupakan salah satu episode penting pascakemerdekaan, tepatnya pada 1947, ketika rakyat Palembang bersama para ulama dan pejuang mempertahankan kedaulatan bangsa dari upaya penjajahan kembali. Pertempuran tersebut tidak hanya mencatat keberanian fisik, tetapi juga keteguhan iman, persatuan umat, dan kekuatan moral yang menjadi fondasi perjuangan. Kegiatan doa bersama yang digagas LESBUMI NU Sumsel ini menjadi penanda bahwa sejarah tidak semata dikenang, melainkan dirawat melalui tradisi dan nilai keislaman.

Ketua LESBUMI NU Sumsel, Kgs. Muhammad Ilham Akbar, S.H., M.H., dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni. Menurutnya, doa bersama adalah bagian dari tanggung jawab kultural dan intelektual warga NU dalam menjaga kesinambungan sejarah.

“Do’a bersama ini adalah bentuk kesadaran historis kita sebagai warga Nahdlatul Ulama. Para pahlawan Pertempuran 5 Hari 5 Malam Palembang telah meletakkan dasar perjuangan dengan darah, doa, dan pengorbanan. Tugas kita hari ini adalah merawat ingatan itu melalui seni, budaya, dan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah agar tidak terputus dari generasi ke generasi,” ujar Ilham.

Baca Juga:  Gubernur Sumsel Herman Deru Siap Dukung Penuh Pelantikan PWNU Sumsel

Ia menambahkan, LESBUMI NU Sumsel memiliki peran strategis sebagai jembatan antara sejarah, nilai keislaman, dan kebudayaan lokal. Seni dan budaya, kata dia, bukan hanya ekspresi estetika, melainkan medium dakwah yang transformatif dan berakar kuat pada kearifan Nusantara. Dengan pendekatan tersebut, pesan perjuangan dapat diterima lebih luas dan mendalam oleh masyarakat.

Sementara itu, narasumber kegiatan, Raden Muhammad Ikhsan, S.H., M.H., memaparkan rangkaian peristiwa penting dalam sejarah perjuangan bangsa, khususnya yang terjadi di Palembang. Ia menekankan bahwa Pertempuran 5 Hari 5 Malam merupakan bagian dari mozaik besar sejarah nasional yang patut terus dikenang.

“Hadirin sekalian, begitu banyak peristiwa masa kelam dalam perjuangan bangsa ini. Salah satunya adalah Perang 5 Hari 5 Malam di Palembang. Banyak pahlawan gugur dalam pertempuran sengit, siang dan malam, demi mempertahankan kemerdekaan yang baru saja kita raih saat itu,” ungkap Ikhsan dalam paparannya.

Menurutnya, mengenang sejarah bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini lahir dari pengorbanan besar. Di titik inilah peran LESBUMI NU Sumsel menjadi relevan, karena menghadirkan sejarah melalui pendekatan yang menyentuh dimensi spiritual dan kebudayaan.

Baca Juga:  Festival Baca Al-Fatihah: PWNU Sumsel Dorong Spirit Keislaman di Palembang

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan, KH. Hendra Zainuddin Alqodiri, turut memberikan penguatan. Ia mengingatkan seluruh jam’iyah NU agar tidak melupakan sejarah sebagai bagian dari identitas keumatan dan kebangsaan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah. NU sejak awal berdiri telah menempatkan ulama, santri, dan tradisi sebagai benteng perjuangan. Melalui kegiatan seperti ini, kita menghidupkan kembali tradisi NU—tradisi doa, tradisi zikir, dan tradisi menghormati para pendahulu yang telah berjuang demi agama dan negara,” tuturnya.

KH. Hendra juga menekankan bahwa tantangan zaman yang semakin kompleks menuntut penguatan nilai kebangsaan dan keislaman. Menurutnya, kegiatan doa bersama yang diinisiasi LESBUMI NU Sumsel menjadi sarana efektif untuk mempererat persatuan, meneguhkan identitas ke-NU-an, serta menanamkan nasionalisme yang berakar pada nilai agama.

Melalui kegiatan ini, LESBUMI NU Sumsel berharap kesadaran kolektif umat semakin tumbuh untuk menjaga warisan sejarah, merawat tradisi NU, dan meneladani semangat juang para pahlawan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Doa dan budaya, sebagaimana ditunjukkan malam itu, menjadi dua pilar penting dalam merawat Indonesia yang berdaulat, beriman, dan berkeadaban. (Andika)

About Al Akbar Rahmat Ramadhan, M.Pd

Check Also

PWNU Sumsel Perkuat Pendidikan dan Wakaf, Lantik LPT NU dan LWP NU serta Teken MoU KUR Syariah

NU Sumsel Online — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Sumatera Selatan (PWNU Sumsel) kembali menegaskan perannya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *