KH Hendra Zainuddin Al Qodiri

Fenomena Gerhana Bulan Total, Ketua PWNU Sumsel Ajak Warga Gelar Sholat Khusuful Qamar

NU Sumsel Online – Fenomena langit istimewa akan terjadi pada Ahad (7/9/2025) tengah malam hingga dini hari. Gerhana Bulan total diperkirakan berlangsung mulai pukul 23.27.01 WIB sampai 02.56.25 WIB dan bisa disaksikan dari seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera Selatan.

Dalam pandangan Islam, peristiwa gerhana bulan memiliki nilai spiritual tersendiri. Masyarakat Muslim dianjurkan untuk melaksanakan sholat gerhana bulan atau sholat khusuful qamar sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Ketua PWNU Sumatera Selatan, KH Hendra Zainuddin Al Qodiri, mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama di daerahnya agar menyambut peristiwa alam tersebut dengan penuh khusyuk.

“Saya mengimbau kepada seluruh warga Nahdlatul Ulama di Provinsi Sumatera Selatan untuk melaksanakan sholat gerhana bulan di masjid ataupun mushola. Fenomena ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan keimanan dan rasa syukur kita kepada Allah SWT,” ujarnya saat dihubungi NU Sumsel Online, Minggu (7/9/2025).

Baca Juga:  Ketua PWNU Sumsel Ajak Masyarakat Hadiri Haul ke-18 KH M. Zen Syukri: Momentum Mengenang Ulama Karismatik Palembang

KH Hendra juga menambahkan bahwa selain sholat, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak zikir, sholawat, serta doa bersama. Menurutnya, gerhana bukanlah sekadar fenomena astronomi, melainkan momentum untuk introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Dalam ilmu astronomi, gerhana bulan terjadi ketika posisi Bumi berada tepat di antara Matahari dan Bulan. Bayangan Bumi kemudian menutupi permukaan Bulan, sehingga cahaya yang biasanya menerangi Bulan terhalang. Akibatnya, Bulan akan tampak meredup dan berubah warna menjadi kemerahan.

Fenomena ini sering disebut sebagai Blood Moon karena warna Bulan yang terlihat merah darah. Para astronom menjelaskan bahwa warna tersebut terbentuk akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi.

Sholat gerhana bulan atau sholat khusuful qamar hukumnya sunnah muakkad, yakni ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW dalam sejumlah riwayat hadits menegaskan bahwa gerhana bukanlah tanda datangnya malapetaka atau kematian seseorang, melainkan salah satu tanda kebesaran Allah SWT.

Baca Juga:  PCNU Muba Gelar Istighotsah, Halal Bihalal, dan Pelantikan MWCNU Sekaligus Peringati Harlah Ansor ke-91 dan Fatayat ke-75

KH Hendra menekankan pentingnya umat Islam tidak hanya terpesona pada aspek ilmiah gerhana, tetapi juga memahami makna spiritualnya.

“Gerhana bulan bukan sekadar tontonan langit, tetapi peringatan agar manusia tidak lalai. Melaksanakan sholat khusuful qamar, berdzikir, dan berdoa adalah wujud nyata penghambaan kita kepada Allah,” tegasnya.

Di sejumlah wilayah, masjid-masjid besar sudah mulai menyiapkan agenda sholat gerhana berjamaah. Pengurus masjid juga mengumumkan melalui pengeras suara dan media sosial untuk mengajak masyarakat datang dan beribadah bersama.

Namun, KH Hendra kembali mengingatkan agar masyarakat tidak hanya menjadikan peristiwa ini sebagai hiburan, melainkan juga momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah.

“Silakan menikmati keindahan ciptaan Allah, tetapi jangan lupa bahwa Rasulullah SAW mencontohkan untuk mendekatkannya dengan ibadah. Mari jadikan gerhana ini sebagai ajang memperbanyak amal kebaikan,” pungkasnya. (Al)

About Al Akbar Rahmat Ramadhan, M.Pd

Check Also

Yudisium Perdana ITSNUS Sumsel, Lahirkan Sarjana Informatika Berkualitas

NU Sumsel Online – Institut Teknologi dan Sains Nahdlatul Ulama Sriwijaya Sumatera Selatan (ITSNUS Sumsel) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *