NU Sumsel Online— Dalam upaya memperkuat identitas ke-NU-an dan menanamkan nilai-nilai spiritual Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terus aktif melakukan dakwah serta pembinaan tarekat. Kegiatan ini dikemas dalam program pembinaan dan kajian rutin yang dilaksanakan di tingkat desa, sebagai bagian dari strategi dakwah kultural yang telah lama menjadi ciri khas NU.
Ketua PCNU PALI, Dr. KH. M. Erlin Susri, M.Pd.I., bersama Ketua Muslimat NU PALI, Hj. Nur Rochimah—yang juga menjabat sebagai Koordinator Lajnah Wathoniyah JATMAN Sumatera Selatan—menggelar pembinaan dan kajian rutin di Ranting NU dan Ranting Muslimat NU Desa Prambatan, Kecamatan Abab, Kabupaten PALI. Selasa siang (27/5).
Acara tersebut juga dirangkai dengan dzikir tawajuhan yang merupakan bagian dari amaliah Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) Al-Chalwani Al-Miftah Mambaul Hikam PALI. Hadir dalam kegiatan itu para pengurus ranting, tokoh masyarakat, ibu-ibu Muslimat, serta jamaah tarekat dari berbagai dusun di sekitar Prambatan.
“Kegiatan ini bukan sekadar pembinaan organisasi, tapi juga bagian dari ikhtiar spiritual untuk menguatkan akidah dan amaliah warga NU. Tarekat adalah jantung spiritual dalam NU, yang harus terus kita rawat dan hidupkan,” ujar KH. M.Erlin
Menurut KH. M.Erlin, pentingnya tarekat bagi NU tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya organisasi ini. Banyak pendiri NU yang merupakan mursyid, sehingga tarekat menjadi bagian integral dalam praktik keagamaan NU.
“Tanpa tarekat, kita hanya memahami Islam secara lahiriah. Tapi dengan tarekat, kita diajak menyelami Islam secara batiniah—mengolah hati, membangun kedekatan dengan Allah secara mendalam,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dakwah NU di Kabupaten PALI saat ini tidak hanya fokus pada penguatan struktural organisasi, tetapi juga pada pembinaan spiritual masyarakat melalui pendekatan tarekat dan tradisi Aswaja lainnya, seperti manaqib, maulid, dan shalawatan.
Sementara itu, Nyai Nur Rochimah,S.Pd.I.,M.Pd. menyampaikan bahwa Muslimat NU memiliki peran penting dalam mendakwahkan tarekat, terutama di kalangan ibu-ibu rumah tangga. Melalui kegiatan seperti dzikir tawajuhan dan kajian fiqih perempuan, Muslimat NU mencoba menanamkan pemahaman Islam yang damai, toleran, dan berlandaskan cinta kepada Allah dan Rasulullah SAW.
“Muslimat NU adalah garda terdepan dalam membumikan Islam rahmatan lil ‘alamin di tingkat keluarga. Melalui dzikir dan tarekat, kami berharap ibu-ibu bisa menjadi pilar ketenangan spiritual di rumah masing-masing,” tutur yai Nur Rochimah.
Ia juga menegaskan bahwa Lajnah Wathoniyah JATMAN di Sumatera Selatan akan terus mendorong kegiatan serupa di berbagai wilayah, termasuk daerah-daerah pelosok yang minim pembinaan spiritual.Karena antara NU dan Tarekat tidak bisa di pisahkan, sehingga Islam Rahmatan lil ‘Aalamiin semakin terwujud ditengah masyarakat. (Al)
NU Sumsel