NU Sumsel Online — Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan akan menggelar Ziarah Aulia Ogan Ilir pada Rabu, 27 Agustus 2025.
Panitia penyelenggara, Ustadz Ahmad Khofid, mengungkapkan bahwa ziarah aulia Ogan Ilir kali ini akan diikuti oleh sedikitnya 95 peserta. Mereka terdiri dari jajaran pengurus PWNU Sumsel, Muslimat NU.
“Armada untuk transportasi sudah direkonfirmasi dan pembayaran selesai. Tour leader di masing-masing bus juga telah disiapkan. Total ada tiga medium bus pariwisata dan tiga mobil kecil yang akan digunakan peserta,” ujar Ahmad Khofid, yang juga menjabat sebagai Direktur NU Trans, Jumat (22/8/2025).
Ia menambahkan, seluruh destinasi ziarah maupun tempat makan siang telah direservasi secara resmi. Bahkan, menu makan untuk setiap peserta sudah dipesan jauh hari.
“Kita ingin memberikan kenyamanan penuh agar perjalanan ziarah aulia Ogan Ilir ini berjalan lancar, tertib, dan berkesan bagi seluruh peserta,” jelasnya.
Destinasi Ziarah Aulia Ogan Ilir
Perjalanan ziarah akan dimulai dengan FotoStop di Jembatan Senai dan Kampung Warna Warni, sebuah destinasi baru yang mulai ramai dikunjungi wisatawan. Setelah itu, rombongan akan melanjutkan perjalanan ke makam-makam ulama dan tokoh bersejarah di Ogan Ilir.
Beberapa tokoh yang akan diziarahi antara lain:
• Syekh Aulia Ulumuddin bin Sultan Alaudin Syah Aceh, bersama ibunda Siti Zahra dan guru beliau H. Mustaqim, di Desa Burai.
• Kyai Agok Syarifuddin, dengan jamuan khas Palembang berupa pempek sebagai simbol kebersamaan.
• KH Bahri bin Pandak (1916–1998) di Tanjung Atap.
• KH Mal’an bin Abdullah (1948–2025) serta KH Soleh Mahasan bin KH Mahasan, Rois PWNU (1986–1990), di Meranjat.
• Aryo Penangsang (1505–1554/1611) bin Raden Kikin (Pangeran Sekar Sedoing Lepen) bin Raden Fatah, di Indralaya.
Di sela perjalanan, peserta juga akan menikmati makan siang dengan menu khas Sumatera Selatan di Restoran Pindang Mang Hadi.
Ziarah aulia Ogan Ilir tidak hanya dimaknai sebagai perjalanan spiritual semata, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para ulama dalam menyebarkan Islam di Sumatera Selatan. Ustadz Ahmad Khofid menegaskan, kegiatan ini merupakan tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu NU dan tetap relevan di era modern.
“Selain berdoa di makam para aulia, kami juga ingin menjalin kebersamaan antar-pengurus dan warga NU. Ziarah ini bukan hanya mengenang, tetapi juga meneladani semangat perjuangan mereka dalam membimbing umat,” ungkapnya.
Panitia berharap, agenda ziarah aulia Ogan Ilir ke depan bisa menjadi program rutin tahunan. “Semoga kegiatan ini menjadi sarana mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat identitas spiritual warga NU di Sumsel,” tutup Ahmad Khofid.
Tradisi ziarah di kalangan NU sudah berlangsung sejak lama dan memiliki nilai edukatif. Para peserta tidak hanya diajak berdoa, tetapi juga diperkenalkan pada sejarah perjuangan para tokoh penyebar Islam di Nusantara. Dengan begitu, generasi muda dapat memahami bahwa dakwah Islam di Sumatera Selatan tidak lepas dari jasa para ulama besar.
Dengan jumlah peserta yang cukup banyak, panitia menegaskan telah menyiapkan segala kebutuhan teknis agar perjalanan aman, nyaman, dan sesuai dengan jadwal. Hal ini sekaligus menunjukkan keseriusan PWNU Sumsel dalam mengelola kegiatan berbasis spiritual sekaligus wisata religi. (Al)
NU Sumsel